Hai temen2 Youth GPdI Loa Janan!!
Aku mau share dikit nee... :)
Pernahkah terlintas dalam pikiran kita, bahwa kepahitan yang sedang kita alami saat ini patut kita syukuri ?
Mungkin yang akan terpikir pertama kali adalah ‘mengapa?’
Yaa, mengapa harus terjadi ? Mengapa harus aku? Mengapa dan hanya mengapa yang bersliweran di otak kita. Ini adalah sangat wajar dan very human. Kita shock karena mengalami hal buruk yang kita belum siap. Jangankan siap, terpikir sedikitpun saja tak pernah!
Maka saat kepahitan terjadi dalam detik itu juga, kita akan terluka dan batin kita akan menolak untuk mau menerimanya. Hati kita akan memberontak dan protes. Kepada siapa? Tuhan? Tuhan.
Mengapa bila ada masalah berat kita baru ingat Tuhan? mengapa saat gembira kita kadangkala lupa untuk mensyukurinya? Apakah Tuhan sengaja membuat hidup kita menjadi buruk agar kita ingat Dia? Agar kita jangan sampai lupa dan tersesat nantinya ?
Tuhan tidak sekejam itu. Manalah mungkin Dia mengancam kita dengan hukuman agar kita mau kembali padaNya? Mana mungkin Bapa memberi batu pada anakNya yang minta roti? Semua kepahitan dan luka yang tertoreh di jiwa kita terjadi karena itu adalah wujud cinta kasihNya pada kita. Mungkin pada waktu kecil kita dicubit, dijewer, atau dibentak oleh orang tua kita saat kita melakukan kesalahan. Jelas itu bukan karena orang tua kita benci pada kita, malah sebaliknya. Orang tua kita ingin mengingatkan kita bahwa itu salah, jangan sampai kesalahan yang sejak kecil itu di biarkan saja, karena akan merugikan kita saat kita besar nanti. Semata-mata orang tua ingin membentuk kita menjadi pribadi yang baik, bukan malah dibiarkan saja dan akan bertumbuh menjadi pribadi yang buruk.
Yaa seperti itulah Allah membentuk kita. Kadang kita berbuat salah, kita di ingatkan dengan cubitan kecil dariNya, tak akan pernah Tuhan beri cobaan yang melampaui kekuatan kita. Karna Dia tau siapa kita. Membentuk kita untuk menjadi sempurna.
Dalam membentuk sebuah sesuatu kita mungkin pernah melihat sebuah bejana. Sebuah bejana berasal dari tanah lempung. Tanah yang gak berarti, tanah yang tidak menghasilkan sesuatu, tetapi oleh pengolah tanah (liat), tanah itu akan bisa menjadi sangat berharga. Tanah itu harus di aduk, di hancurkan, dan saat membentuk sebuah bejana, tangan pengolahnya akan menekan, merusak bagian tertentu, dan tanah lempung itu akan terus menerus di haluskan oleh tangan pengolahnya untuk menjadikannya sebuah bejana yang bagus.
Begitulah Allah membentuk hidup kita. Kadang dalam bagian kehidupan kita perlu di ‘rusak’ untuk menjadikannya sempurna. Di bentuk, dihaluskan, untuk kemudian menjadi satu bentuk pribadi yang indah.
Pernah mengalami saat kepahitan melanda? kita berdoa padaNya, dan kemudian kita mengalami suatu hikmat dariNya? Bahwa kemudian Allah menjawab pertanyaan ‘mengapa’ kita dengan sangat indah dan malah kita mensyukuri pencobaan itu? Pernah berkata ‘coba kalo aku ga alami itu, tentu aku ga akan dapat ini…. ternyata semua ada hikmah dan pengajaran bukan? (Kayak lagu aja nee...hehehe). Malahan kadang rahmat yang diberikan pada kita melebihi apa yang kita mau. Sungguh Tuhan luar biasa. Allah membentuk kita dengan sedemikian rupa. Agar kita ingat setiap pencobaan adalah akan berbuah manis, bila kita sungguh-sungguh mau percaya rencanaNya adalah indah. Bila kita mau percaya kita adalah sebuah tanah lempung yang tak punya arti apa-apa, tapi dengan tanganNya, kita akan dibentuknya menjadi sebuah bejana yang halus dan indah. Bukan saja indah tapi yang melihat ‘bejana’ kitapun akan terkesima melihat keindahannya.
Setiap kepahitan dan pencobaan adalah sarana tangan Tuhan untuk membentuk kita agar tanah lempung yang ada pada kita bisa dibentuknya agar menjadi sebuah karya yang indah mulia. Menjadi sebuah bejana yang indah harus melalui proses. Di rusak, dihancurkan,ditekan dan selanjutnya jadilah bejana hidup kita yang indah.
By: Mulya Hermawan
www.mulyahermawan.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar